Kiprah Anita R. Tanjung di Bidang Sosial
Musibah tsunami Aceh di Desember 2004 menjadi peristiwa yang tidak
terlupakan oleh Chairul Tanjung dan isterinya, Anita Ratnasari Tanjung.
Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal dibentuknya CT Foundation.
CT Foundation bermula dari niat untuk membantu anak-anak korban
Tsunami Aceh. Di tahun 2005, CT Foundation mengumpulkan lebih dari 400
anak-anak korban tsunami dari berbagai usia di tempat yang bernama Rumah
Anak Madani di Deli Serdang, Sumatera Utara. Anak-anak tersebut
dirawat, diberi tempat tinggal, dan dididik dengan harapan anak-anak ini
bisa terlepas dari trauma tsunami yang memisahkan mereka dengan
keluarga.
Di tahun 2010, sebagian besar anak-anak ini telah menyelesaikan
sekolahnya. Rumah yang menjadi tempat tinggal anak-anak ini masih dapat
berfungsi, sehingga CT Foundation membuka SMA Unggulan CT Foundation.
Siswa-siswa yang terpilih telah mengikuti serangkaian ujian.
“Syaratnya adalah berasal dari keluarga tidak mampu dan harus pintar.
Sistem seleksinya adalah jemput bola. Tim kami akan mendatangi rumah
calon siswa satu persatu, bahan sampai ke pedalaman. Siswa yang terpilih
akan tinggal di asrama dan seluruh biaya hidup kami tanggung. Setiap
tahun kami hanya menerima 100 siswa. Tenaga pengajar di SMA Unggulan CT
Foundation adalah tenaga-tenaga ahli yang sudah kami saring,” jelas
Anita Ratnasari Tanjung,Ketua CT Arsa Foundation.
Kurikulum yang digunakan di SMA Unggulan CT Foundation mengikuti
kurikulum yang berlaku dari dikti. Selain itu, siswa-siswi SMA Unggulan
CT Foundation juga dibekali dengan ilmu entrepreneurship. Biasanya
murid-murid akan magang di Carrefour. Di sana mereka akan belajar
bagaimana bertemu dengan pembeli, menawarkan produk. Sebagian juga ada
yang magang di bagian kasir.
SMA Unggulan CT Foundation telah melaksanakan MoU (Memorandum of
Understanding) dengan 16 perguruan tinggi negeri di Indonesia yaitu,
Universitas Sumatera Utara, Univeritas Andala, Universitas Sriwijaya,
Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas
Padjadjaran, Universitas Dipenogoro, Universitas Negeri Yogyakarta,
Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Malang,
Instutute Pertanian Bogor, Institute Teknologi Bandung, Institute
Teknologi Sepuluh November, Politeknik Manufaktur Bandung, dan
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
Siswa-siswi SMA Unggulan CT Foundation telah meraih banyak prestasi
antara lai, peringkat ke 7 Olimpiade Nasional Indonesia, Peringkat
pertama Olimpiade Guru Nasional selama 3 tahun berturut-turut, sekolah
tersehat se-Sumatera Utara selama 2 tahun berturut-turut, dan lain-lain.
“Alhamdulillah tahun ini, 95% siswa-siswi SMA Unggulan CT Foundation
masuk ke perguruan tinggi negeri. Sisanya langsung bekerja dan
berwirausaha,” ungkap Anita.
SMA Unggulan CT Foundation akan melebarkan sayapnya ke Solo. “Pak
Chairul kan asalnya dari Sumatera Utara, sedangkan orang tua saya
berasal dari Solo, jadi biar adil sekolah satunya lagi akan ada di
Solo,” candanya.
Program lain yang dijalankan oleh CT Foundation adalah program
pendidikan berkarakter untuk anak-anak usia dini. Bekerja sama dengan
Indonesia Heritage Foundation dan PAUD (Pendidikan Usia Dini) , CT
Foundation memberikan pelatihan dalam pembinaan karakter anak-anak usia
dini (0-6 tahun).
Untuk membentuk akhlak yang bagus, harus dibentuk sejak dini.
Anak-anak harus diajarkan beriman kepada Tuhan, patuh kepada orang tua,
jangan membuang sampah sembarangan, dan lain-lain. Selain itu, CT
Foundation menyediakan Mobil Pintar. Mobil Pintar ini mengelilingi
daerah-daerah di Jakarta dan sekitarnya untuk membawakan buku-buku agar
bisa dinikmati oleh anak-anak yang kurang mampu.
Di bidang kesehatan, CT Foundation juga menyediakan Mobil Sehat.
Meskipun saat ini unit mobilnya hanya 1, mobil ini sudah memeriksa 18
ribu pasien kurang mampu dalam 8 bulan. Mobil Sehat berkeliling di area
Jabodetabek dan juga Jawa Barat dan beroperasi seminggu tiga kali.
“Jika saya sedang ada di Jakarta, saya turut terjun ke lapangan.
Latar belakang saya adalah dokter gigi jadi saya di bagian pemerikasaan
gigi. Saya juga mengajak teman-teman saya untuk membantu. Kami juga
memberikan penyuluhan-penyuluhan sederhana mengenai hidup sehat,”
ujarnya sambil menujukkan semangatnya.
CT Foundation juga bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra untuk
mengadakan pelatihan untuk para tuna netra. Pelatihan yang dilakukan
antara lain kursus computer dan pelatihan huruf braille secara online.
Di bidang ekonomi, CT Foundation memberikan pembinaan kepada
pengrajin untuk mengasilkan produk yang berkualitas agar bisa diterima
oleh pasar internasional. “Produk yang mereka hasilkan bervariasi
contohnya mereka membuat tas anyaman yang digabungkan dengan kain-kain
tradisional Indonesia. Hasilnya, salah satu pengarajin kami dari
Tasikmalaya kebanjiran order. Semua hasil penjualan dari produk-produk
yang mereka hasilkan akan kami berikan kepada mereka,” jelasnya.
Anita mengatakan, fokus utama program yayasan yang ia dirikan adalah
pendidikan. “Layaknya bisnis, kami harus memikirkan return apa yang
paling besar manfaat. Kami percaya dengan pendidikan , rantai kemiskinan
dapat diputus. Oleh karena itu, kedepannya kami akan lebih banyak lagi
membuat program yang berkaitan dengan pendidikan,” jelasnya.
Di usianya yang ke-10 tahun ini, CT Foundation bertransformasi
menjadi CT Arsa Foundation. Arsa yang dalam bahasa Sansekerta memiliki
arti kebahagian. Anita berharap bahwa yayasan yang ia dirikan bersama
sang suami dapat memberikan lebih banyak kebahagian kepada masyarakat
yang membutuhkan.
Anita menegaskan, dana untuk membuat dan melaksanakan program-program
CT Foundation berasal dari dana pribadinya. “Murni dari uang saya
sendiri. kami tidak mengadakan penggalangan dana atau apapun itu,”
tutupnya. (EVA)
Sumber: http://swa.co.id/
Category: Sosok









0 komentar